Sesambatan.
Januari 2019.
Baru terasa, selama ini ternyata saya terlalu menarik diri dari lingkungan sosiaal. Dampak besar yang terjadi setelah terlalu cepat ber- andai andai dan jatuh dengan hampa. Membunuh jiwa secara perlahan dengan cara seperti ini tidaklah nikmat. Tidak menyalahkan orang lain,mungkin rasa kecawa yang terlalu membuat saya seperti ini.
Seorang teman berkata bahwa saya harus jadi orang yang baik. Bersahabatlah dengan lingkungan sekitarmu. Ingat, kau jauh dari kami. Jauh pula dari orang tua mu.
Berusaha keluar dari telur kuning. Menjelajah hingga keluar cangkang. Itu yang saya inginkan. Mulai berfikir bahwa menjadi orang baik dan bersahabat tidaklah buruk. Ya walaupun aku tau hasilanya mungkin akan sama seperfi yang sudah sudah. Kecewa.
Entahlah, mungkin aku yang terlalu berharap lebih atau memang begini yang seharusnya terjadi.
Tahun berganti dan waktunya saya pergi. Menjalani apa yang saya inginkan selama ini. Rasanya senang berhasil keluar dari kota itu. Kehidupan sosial saya yang benar benar hancur mulai sedikit membaik. Mungkin memang begini cara saya untuk pulih. Pergi dan kembali lagi setelah pulih. Seperti yang saya tau mungkin memang menyakitkan bagi yang di tinggal pergi dan sangatlah sulit menerima yang pergi, untuk kembali lagi.
Di kota ini saya sudah menjadi sedikit lebih ramah. Punya banyak teman dan tanpa saya sadari, saya salah langkah. Terlalu terbuka dan membiarkan semuanya masuk, hal itu terjadi lagi. Seseorang menyentuh sesuatu yang sangat saya lindungi di sana. Rasa percaya. Dia hancur lagi dan rusak. Kembali membuat saya semakin menjadi tertutup.
Sulit di percaya, saya mengulangi suatu yang sama. Percaya dan berharap pada oraang yang saya kira pantas, ternyata tidak sama sekali. Membuat saya semakin terlihat menjadi layak untuk di kasihani. Tak pandang bulu akhirnya saya pergi lagi. Mulai lagi menjauhi orang orang. Sulit sekali ternyata membedakan mana yang baik dan tidak. Semua terlihat sama dari depan.
Pertemanan yaang tidak sehat membuat saya terus menerus menyalahkan diri sendiri. Bukan salah mereka. Ini salahmu. Seharusnya kau tak sebaik ini. Semua salahmu. Terlalu percaya dan terlalu bahagia. Tidak boleh seperti ini. Bahkan kau tau ini akan berakhir seperti apa. Lebih menyakitkan bukan? . Mungkin saya harus sesikit menghindar. Memberi jarak tanpa penjelasan memang menyakitkan. Saya tidak bisa teriak. Tapi saya bisa membuatmu benar benar tak terlihat.
Jika saya sudah benar siap, saya akan menyapamu kembali. Tidak berharap untuk di terima lagi. Tapi, setidaknya saya sudah berusaha bukan?
Baru terasa, selama ini ternyata saya terlalu menarik diri dari lingkungan sosiaal. Dampak besar yang terjadi setelah terlalu cepat ber- andai andai dan jatuh dengan hampa. Membunuh jiwa secara perlahan dengan cara seperti ini tidaklah nikmat. Tidak menyalahkan orang lain,mungkin rasa kecawa yang terlalu membuat saya seperti ini.
Seorang teman berkata bahwa saya harus jadi orang yang baik. Bersahabatlah dengan lingkungan sekitarmu. Ingat, kau jauh dari kami. Jauh pula dari orang tua mu.
Berusaha keluar dari telur kuning. Menjelajah hingga keluar cangkang. Itu yang saya inginkan. Mulai berfikir bahwa menjadi orang baik dan bersahabat tidaklah buruk. Ya walaupun aku tau hasilanya mungkin akan sama seperfi yang sudah sudah. Kecewa.
Entahlah, mungkin aku yang terlalu berharap lebih atau memang begini yang seharusnya terjadi.
Tahun berganti dan waktunya saya pergi. Menjalani apa yang saya inginkan selama ini. Rasanya senang berhasil keluar dari kota itu. Kehidupan sosial saya yang benar benar hancur mulai sedikit membaik. Mungkin memang begini cara saya untuk pulih. Pergi dan kembali lagi setelah pulih. Seperti yang saya tau mungkin memang menyakitkan bagi yang di tinggal pergi dan sangatlah sulit menerima yang pergi, untuk kembali lagi.
Di kota ini saya sudah menjadi sedikit lebih ramah. Punya banyak teman dan tanpa saya sadari, saya salah langkah. Terlalu terbuka dan membiarkan semuanya masuk, hal itu terjadi lagi. Seseorang menyentuh sesuatu yang sangat saya lindungi di sana. Rasa percaya. Dia hancur lagi dan rusak. Kembali membuat saya semakin menjadi tertutup.
Sulit di percaya, saya mengulangi suatu yang sama. Percaya dan berharap pada oraang yang saya kira pantas, ternyata tidak sama sekali. Membuat saya semakin terlihat menjadi layak untuk di kasihani. Tak pandang bulu akhirnya saya pergi lagi. Mulai lagi menjauhi orang orang. Sulit sekali ternyata membedakan mana yang baik dan tidak. Semua terlihat sama dari depan.
Pertemanan yaang tidak sehat membuat saya terus menerus menyalahkan diri sendiri. Bukan salah mereka. Ini salahmu. Seharusnya kau tak sebaik ini. Semua salahmu. Terlalu percaya dan terlalu bahagia. Tidak boleh seperti ini. Bahkan kau tau ini akan berakhir seperti apa. Lebih menyakitkan bukan? . Mungkin saya harus sesikit menghindar. Memberi jarak tanpa penjelasan memang menyakitkan. Saya tidak bisa teriak. Tapi saya bisa membuatmu benar benar tak terlihat.
Jika saya sudah benar siap, saya akan menyapamu kembali. Tidak berharap untuk di terima lagi. Tapi, setidaknya saya sudah berusaha bukan?
Komentar
Posting Komentar